Contoh Surat
Ini contoh fiktif. Setiap surat di LoveLetterly ditulis oleh orang sungguhan, untuk momen sungguhan.
Kenang-kenangan, bukan sekadar notifikasi
Sayangku,
Aku sudah seringkali menulis surat ini di kepala. Di dalam kereta, di menit-menit hening sebelum tidur, saat berjalan pulang di bawah langit penuh bintang yang entah mengapa tampak lebih terang setiap kali aku memikirkanmu.
Ada versi di mana kata-kataku sempurna — di mana aku bercerita tentang tawamu saat kamu benar-benar terkejut, atau tentang bagaimana aku hafal bunyi kunci pintumu di depan pintu. Tapi sebenarnya, aku tidak butuh versi yang sempurna. Aku hanya ingin kamu tahu.
Kamu membuat hari-hari biasa terasa seperti perayaan. Secangkir kopi yang kita bagi, jalan-jalan tanpa tujuan, Minggu yang santai dengan kepalamu bersandar di bahuku — momen-momen inilah yang ingin kujaga. Bukan karena luar biasa, tapi karena itu milik kita.
Jadi, surat ini bukan sekadar pesan. Ia adalah pembatas buku. Sebuah pengingat bahwa kapan saja dan di mana saja, kamu bisa membukanya dan teringat bahwa ada seseorang yang sedang memikirkanmu — bukan dengan tergesa-gesa, bukan lewat notifikasi, tapi dengan cara yang tenang, sebagaimana layaknya perasaan yang tulus.
Dari yang mencintaimu,
—
Dibuat dengan LoveLetterly.
Ada perasaan yang layak lebih dari sekadar pesan singkat.